Sepak Bola Membawa Derita

Update Terakhir: April 1, 2015

Sepak Bola Membawa Derita

Sepak Bola Membawa Derita – Dulunya sepak bola diciptakan hanya untuk dua tujuan yakni: kesehatan dan kegembiraan. Dengan bermain sepak bola, diharapkan orang-orang yang menggelutinya akan mendapatkan tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat. Men sana in corpore sano. Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Begitu kata orang Yunani berfilosofi. Terang saja kita akan sehat dan senang jika bermain sepak bola karena kita akan berlari-lari mengejar bola kesana kemari. Sebelum pertandingan kita pasti akan bertemu dengan kawan-kawan kita yang satu tim sehingga terjadilah pola komunikasi yang terjalin. Kedua hal tersebut membuat manusia yang bermain sepak bola akan memenuhi dua tujuan tersebut; sehat dan senang.

Sepak Bola Membawa Derita – Lalu bagaimana jika ada yang bermain sepak bola tetapi tidak bahagia? Artinya di sana ada sebuah pemaksaan kehendak oleh orang lain sehingga manusia-manusia yang bebas perbuatan dan pikirannya akhirnya menjadi tertekan. Siapa saja mereka? Banyak. Para pemain sepak bola professional yang harus menuruti perintah pelatih yang tidak disukainya misalnya. Seorang pemain sepak bola yang kreatif dan bebas akan merasa dikekang mana kala dia disuruh melakukan sesuatu padahal itu bukan tugasnya. Contoh para pemain ini adalah Johan Cruyff, Roberto Baggio, Edgar Davids yang pada akhirnya mereka rela melepaskan kesempatan bermain di tim nasional karena pelatih terlalu mengekang kebebasan mereka bermain.

Sepak Bola Membawa Derita – Atau ada juga dahulu ketika Indonesia masih dijajah Belanda, para pesepak bola asal Indonesia tidak boleh menang melawan kerajaan Belanda. Pokoknya penjajah Belanda harus menang. Walhasil para pemain Indonesia yang seharusnya bisa mengalahkan pemain-pemain VOC tersebut akhirnya secara tragis harus menyerah kalah juga di lapangan hijau oleh para penjajah itu. Sudahlah kalah di medan perang, haruslah juga Nusantara kalah di tanah lapang. Ada beberapa, satu, dua orang yang mencoba mematahkan dominasi penjajah ini tetapi kemudian akhirnya mereka berakhir tragis dan menderita sampai akhir hidupnya. Ada sebuah cerita menurut salah seorang sejaran Jakarta atau Betawi, Ridwan Saidi, para pemain pribumi atau inlander coba melawan dan akhirnya mengalahkan tim dari VOC. Tetapi, kemudian para pemainnya esoknya dibawa ke markas akibat tuduhan memberontak dan akhirnya semua pemain tim Betawi itu dipatahkan kakinya.

Sepak Bola Membawa Derita – Ya, sepak bola derita saya menyebutnya. Mana kala sepak bola tidak lagi melahirkan kesehatan dan kegembiraan. Bahkan yang ditimbulkan adalah penyakit dan penderitaan. Dapatkah anda bayangkan bagaimana sakitnya kaki dipatahkan? Bagaimana tertekannya harus mengalah di sebuah pertandingan? Dan betapa tidak bebasnya kita sebagai manusia mana kala dikekang sedemikian rupa? Mungkin sebagian dari kita, menganggap hal tersebut terlalu berlebihan. Tetapi percayalah bahwa bisa jadi suatu saat jika kita tidak peduli pada hal ini, bisa jadi kita akan merasakannya pada keluarga kita. Tapi, yah, semoga saja tidak.